Lelah



Tidak sengaja berhubungan lagi dengan dia. Dan rasa itu telah mucul, seharusnya tidak memakai hati untuk berhubungan dengan dia tapi, logika. Karena dia tidak pernah memikirkan aku, lalau kenapa aku harus memikirkan dia ?
Aku sudah lelah mencintai tanpa dicintai. Aku sudah capek karena selalu mengeluarkan air mata ketika dia selalu baik kepadaku. Aku sudah mati rasa kepada cowok karena dia. Dan kenapa selalu senang dan sakit ketika masih kontakkan dengan dia.
Mungkin aku perlu bantuan seorang psikolog agar aku normal lagi. Hatiku penuh dengan luka. Luka ini belum sembuh sepenuhnya, sepertinya perlu pengobatan agar sembuh. Aku tidak tahu cara mengobati luka ini.
Telah aku serahkan semuanya kepadaNya, sudah aku serahkan, setiap malamku menangis. Kenapa selalu dan selalu, aku menolak kenyataan bahwa hatiku masih terluka. Sampai kapan luka ini akan sembuh. Aku tidak tahu dan hanya Allah yang tahu hal tersebut.
Tadi malam, aku sudah normal tidak memikirkannya. Tidak tahu kenapa, dalam mimpi aku masih terpikirkan. Mimpi itu melihatkan bahwa dia menikah dengan cewek lain, aku menangis dan dia biasa sekali padaku. Tidak ada rasa bersalah karena menikah dengan orang lain padahal dia tahu bahwa aku menyayanginya bukan sebagai sahabat tapi, sebagai seorang cowok.
Lelah dengan luka ini. Jenuh dengan tangisan ini. Aku muak dengan rasa ini. Seandainya, aku bisa bunuh diri, pasti aku lakukan karena sudah capek mencintai tanpa dicintai. Ternyata, sakit sekali mencintai tanpa dicintai. Sakitnya itu melebihi hantaman batu.
Aku perlu bantuan dari sisi agama sepertinya. Aku memerlukan bantuan untuk bisa menyembuhkan luka ini. Aku telah hilang arah, aku telah menangis berulang kali setiap hari dan aku membenci tangisan ini. Tangisan yang tidak pernah menyenangkan, menyesakkan hatiku.
Aku tahu “Kenapa harus menangisi orang yang tidak pernah mencintaiku ?” Aku sudah memikirkan itu berulang kali dan jawabannya adalah move on dari rasa-rasa ini. Aku sudah mencoba dari rasa-rasa itu hatiku yang ini bukan logikaku mengatakan bahwa kau masih ada disitu. Masih berharap suatu hari nanti kau mengatakan bahwa kau mencintaiku juga. Itu sepertinya tidak mungkin, karena ada lagi di hatiku mengatakan bahwa aku membencimu. Membenci mu karena kau tidak pernah memikirkan hatiku ini walau kau tahu aku sangat menyayangimu.
Kau tahu her,
Aku menangis lagi
Aku menangis karenamu
Karena orang yang tidak pernah memikirkanku
Kau orang egois
Kau orang yang tidak pernah memikirkan hatiku
Kau lebih rendah daripada hewan
I hate u
But, i can,t hate u
Coz ur so kind to me
Sepertinya aku tidak mau bertemu denganmu jika kau main ke komisariatku. Walaupun ketum memintaku datang jika pematerinya adalah kamu, aku tidak akan datang. Aku tidak datang karena aku pasti terluka melihatmu sehat-sehat saja sedangkan hatiku terluka.
Sebenarnya ada yang indah bisa masuk dalam hatiku yaitu mas Zen tapi aku tidak PD. Dia seorang yang agamis juga berwibawa sekali dan dewasa. Aku tidak sanggup terluka lagi untuk kesekian kali. Mas zen sungguh indah, seorang imam yang bisa mengemong diriku, eh semua orang sih.
Aku tidak tahu kriteria mas Zen itu seperti apa dan aku tidak mau masuk ke lubang yang sama lagi jadi aku hanya bisa berdoa semoga hati masnya tidak hampa lagi, entah itu bagaimana Allah akan membahagiakan hatinya.
Dan aku tidak tahu cara masuk ke dalam hatinya. Karena aku tidak pandai dalam hal cinta. Ketika melihat masnya, rasa terluka itu sedikit terobati, rasanya ingin bercerita kepada masnya tentang sakitku agar masnya bisa mengobatinya. Aku ingin mengenal lebih tapi, aku tidak mau terluka lagi untuk kedua kali jadi aku tidak mau terluka lagi. Sudah cukup Heru melukai hatiku, aku tidak bersedia mas zen melukaiku. Eh padahal masnya tidak salah apa-apa, emang imajinasiku memainkan peran.
Inilah pikiran seorang introvert
Penuh dengan khayalan indah
Tanpa ada buktinya
Inilah sensitif yang begitu sensitif
Tanpa mengenal lelah
Hatiku tercipta sangat sensitif
Hatiku sangat unik
Dan mudah terluka
Aku merasa bahwa inilah kelebihanku

0 comments:

Post a Comment

JADILAH DIRIMU SENDIRI. Powered by Blogger.