Sahabat

Akhiri saja!


Aku sedang memainkan lagu tentang Untuk Gita by Paulus A. Partohaps. Lagu ini pernah menjadi imajinasiku untuk dirinya.
Berikut lirik dari lagu tersebut
Di hari jadimu ingin ku katakan
Bahwaku sangat merindukanmu
Doaku selalu tertuju padamu
Kuharap kau bahagia selalu..
Semoga kau ada dalam lindungan-Nya
Rizki dan berkah-Nya jadi karunia untukmu
Senang dan s’tiasa
Oh tuhan,
Jaga dia kabulkan doaku dan semua harapannya
Langit tak selalu biru namun ku akan ada disisimu
Sahabatku…
Kau teman hidupku
Jika aku bersahabat dengan dia, dan hatinya bukan untukku bisa kah aku sama dia bersahabat ? Dia pernah bilang jadi sahabat dan teman, kalau menurutku sih tidak bisa! Jika salah satu dari kita ada perasaan, kita masih bersahabat, maka akan menumbuhkan luka pada salah satu orang tersebut atau bahkan keduanya.
Mungkin karena itu kau mengajakku ke Kawah Ijen untuk berteman denganku. Karena kau tidak mau gara-gara rasa persahabatan kita hancur? Atau emang kamu munafik? Atau semua orang di dunia ini munafik ? Oh Tuhan pikiran negativeku selalu datang kepadamu.
Makanya, kau memilih dia yang agamanya lebih dan sederhana sekali. Terlihat kok, dia baik banget dan cantik. Hehehe. Eh sudahlah, pembahasan kali ini tentang Apakah kita bisa bersahabat sedangkan aku mempunyai rasa kepadamu? Jawabannya Tidak bisa.
Sudah aku mencobanya, tapi itu tidak mungkin bisa terjadi. Dalam lyrik tersebut, kemungkinan aku seperti itu selalu ingin terbaik untukmu walaupun kau tak pernah mempedulikanku. Terasa ngenes ya ? Ketika bertemu denganmu, sesungguhnya dirimu baik, apa adanya, jujur, tidak menggunakan drama.
Aku tahu saat di kawah, kau mau menjelaskan untuk merubah mindsetku dan mencari kebahagiaan lain. Kau tidak tega terhadapku untuk memberi tahu bahwa hatimu bukan untukku maka, saat turun kau diam saja tidak mengatakan apapun. Ketika aku bilang “Oh pilih-pilih!” dengan nada tinggi. Saat itulah kau diam seribu bahasa.
Ketika waktu pulangpun, kau tidak berani menatap kedua bola mataku ketika aku bilang “Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan.” Aku tahu, kau tidak mau melukaiku lagi untuk kedua kalinya sehingga, kau lebih baik menjauh dariku. Itulah pertemuan terkahir kita.
Sejujurnya, aku rindu kepadamu. Ingin cerita banyak tentang apapun kepadamu. Sepertinya kau cowok thinking, sehingga ketika bercerita tentang perasaan kau tidak kuat mendengarkannya. Tidak sih, kau cowok perasa sepertinya, karena kau kasihan terhadap keaadan Bapak tambang yang di kawah ijen.
Aku tidak habis pikir, semua cowok yang aku suka adalah jelalatan. Kenapa harus kau juga begitu ? Iya sih semua suka melihat dari wajahnya lalu hatinya bisa dibilang dari mata turun ke hati. Kenapa harus kau juga seperti itu ? Kenapa? Kenapa selalu aku dipertemukan cowok yang seperti itu? Mungkin karena aku juga seperti itu? Oh tidak mungkin, aku melihatmu karena sosial sih karena wajahmu menurutku pas-pasan. Itu kenyataannya.
Mungkin kau juga tahu bahwa aku mempunyai sifat pembenci lebih dari siapapun. Makanya, kau selalu memaklumi sifatku ini. Karena kau adalah teman masa kecilku yang tahu tentang keburukkanku. Kau tahu tentang deritaku dahulu dan kau tidak mau menyakitiku. Aku juga tahu tentang deritamu tapi, aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untukmu.
Inilah akhir dari semua kisah kita, kisah yang begitu cepat berlalu. Kisah yang ingin aku bawa dalam pernikahan. Kisah yang berimajinasi dalam kebahagiaan berdua, saling melengkapi kekurangan, berjuang bersama, saling menyemangati. Itu semua telah musnah karena ada yang lebih cocok denganmu. Dengan emosi sosialmu, matamu, hatimu, bahkan agamamu.
Terlihat ngenes banget ya ? Sepertinya begitulah. Aku tidak pandai dalam hal cinta. Oleh karena itu, ketika aku jatuh cinta kepada seseorang aku sangat membenci rasa itu. Jadi, aku tidak mau jatuh cinta lagi kecuali dengan suamiku kelak. Aku akan memberikan rasa cintaku hanya untuk suamiku. Suamiku yang mau menerimaku dan berjuang memperbaki diri setiap hari. Mengingatkanku jika aku salah, bersabar atasku, dan selalu ingin menuju ridhoNya.

0 comments:

Post a Comment

JADILAH DIRIMU SENDIRI. Powered by Blogger.