Kawah Ijen

Kenanganku Bersamamu

Ketika Kahcof menolak secara halus cintaku (Baca kisahnya disini). Hatiku terasa sesak, mungkin kecewa karena jawaban yang tak sesuai harapan. Sebuah pertanyaan yang aku ajukan namun dibalas jawaban penuh sesak. Ku coba terima dengan lapang dada meski tetap saja penuh tanya. Pikiranku terus mengolah banyak pertanyaan yang seakan menjadi penghalang untuk menerima keputusannya.
Sebelum aku ungkapkan rasaku padanya, dia bertingkah seolah ada rasa. Atau mungkin ini hanya perasaanku saja. Tapi ada sebuah pertanyaan yang selalu membuatku bertanya-tanya. 
“War, Jodoh itu dijemput atau ditunggu?” Dia mengirim pesan melalui whatasppku.
Seketika aku terkejut dengan pesan tersebut. Kalimatnya seakan ditujukan padaku. Aku pun terbawa suasana, atau baper sebutannya. Aku tidak mengerti apa maksudnya. Apakah ini pertanyaan untukku atau dia hanya butuh pilihan untuk hidupnya saja. Ahh, udahlah. Kamu pun sudah mengetahui kalau aku memiliki rasa padamu, sebuah ungkapan rasa yang aku katakan setahun yang lalu. Dan disaat itu pula aku mengetahui tentang sebuah keanehan. Kau tahu itu apa? Faktanya, kau menyukai seorang perempuan namun bukan diriku.  (Baca kisah disini).
Malam itu aku seakan ingin menemuinya langsung. Berbicara hingga tuntas akan semua kegundahanku. Aku bahagia karena dia mengabulkan permintaanku untuk bertemu dengannya malam itu juga. Aku hanya berprasangka bahwa pertemuan tersebut adalah yang terakhir setelah aku menyelesaikan segala urusan dengan mencurahkan uneg-uneg yang ada dalam hatiku.
Salah satu ungkapan yang aku pertanyakan adalah mengapa dia menolak diriku yang tulus mencintai dia. Aku tahu  dia mendambakan seorang istri HMI-Wati. Aku dilema dengan pernyatannya. Sedangkan kondisinya aku bukanlah bagian dari HMI waktu itu. (Baca kisah disini). Yang harus kau tahu adalah pernyataanmu membuatku seakan terjatuh dari atas tebing yang kemudian hancur tak beraturan. Sebelum aku tahu bahwa kau menyimpan rasa kepada orang lain. Aku ingin bertemu denganmu. Voice note telah aku kirimkan
“Hari demi hari telah aku lewati, izinkan aku untuk yang terakhir kali bertemu denganmu,” ucapku.
Kau menyetujui hal tersebut.
“Semoga dalam minggu ini bisa bertemu,” Kahcof membalas.
“Besok ?” Jawabku.
“Aku masih di Jember War,” jawabnya.
Aku berpikir bahwa dia memang tidak mau bertemu denganku. Akhirnya aku menjawab.
“Tidak apa-apa kok kalau tidak bisa, aku paham,” jawabku dengan sedikit kecewa.
“Wardani mau ke Jember?” jawabnya.
“Pengen tapi, bagaimana bilangnya ke Ayah, pasti tidak di bolehin,” wajahku cemberut.
Dia hanya mengeread saja, bertemu adalah yang ingin aku lakukan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Jember tanpa sepengetahuan orang tua karena jika mereka tahu pasti aku tidak diperbolehkan kesana.
Dia mengajakku ke Kawah Ijen. Tidak tahu kenapa dia mengajakku kesana tapi, aku menyukainya. Kurang sih pengalamanku ke gunung, mungkin di sana ada hal yang menarik bersamanya. Sampai detik ini, aku belum bisa melupakan kenangan di Kawah Ijen bersama dia.
Kalau tidak salah, aku berangkat kesana tanggal 07 Oktober hari minggu jam 15:00 dari Surabaya. Alasanku kepada ortu bermain ke rumah teman. Sebelum berangkat naik kereta dari Surabaya. Temanku bertanya,
“Vivi sudah izin ke orang tua?” tanya temanku lewat whatsup.
“hehehe belum far,” jawabku kecut.
Farah terlihat marah dan melarang untuk pergi sebelum izin ke orang tua. Tidak mungkin izin karena pasti aku tidak di izinkan. Ideku muncul,
“Bagaimana kalau bilang Kahcof, tak suruh dia untuk mengizinkan ke orang tua?” pemikiranku keluar.
“Iya coba bilang vi,” Farah setuju.
Ternyata, Kahcof mengiyakan permintaanku. Dalam perjalanan menuju ke Jember, secara tidak sengaja aku bilang ke ortuku lewat pesan whatsup. Mereka marah besar sehingga, membuat perjalananku tidak mengenakkan. Beban yang aku rasakan, semua tak beritahu ke Kahcof. Dia bilang
“Tenang, yang penting kamu sampai dulu, nanti pasti aku izinkan,” seru Kahcof.
Pernyataannya membuat aku sangat lega dan tenang dalam perjalanan menuju bertemu dengan sang pujaan hati. Ha-ha-ha. Pujaan darimana kan sudah ditolak secara berkelas alias secara terhormat.
Dalam perjalanan, aku berpikir apa mungkin ke Kawah Ijen malam-malam dan aku baru tahu kalau letak jember ke Kawah Ijen itu 3 jam perjalanan. Kahcof sie santai-santai saja tidak masalah tapi, aku kasihan nanti dia kecapekan. Logikaku bergumam, kenapa dia mau malam-malam ke Kawah Ijen berdua denganku menempuh perjalana 3 jam tidak masalah tanpa alasan? Apa mungkin dia akan mengungkapkan rasa? Imajinasiku mulai meninggi.

Ketika bertemu dengannya, kalian tahu apa yang dia lakukan. Yang dia lakukan sangat tak terduga. Saksikan kisah selanjutnya di Kawah Ijen 2.

#30DWCJilid16
#Day2

4 comments:

JADILAH DIRIMU SENDIRI. Powered by Blogger.