PETUALANG KEMERDEKAAN



Sejarah bukan sekedar dihafal (Anymous)
“Ah, negara korupsi!” Sekar menyeringai. Sekar Agustin Permata sedang menonton berita politik. Dia telah mencibir berkali-kali tentang korupsi di Indonesia. Ayahnya yang berada disamping hanya tersenyum melihat tingkah Sekar.
“Kar, tidak jadi berangkat kuliah ?” tanya sang ayah penasaran.
“ Oh iya, ayah sih tidak mengingatkan jadi lupa. Aduh, pasti telat nih!” Sekar terburu-buru beranjak dari tempat duduk untuk siap-siap. Dia berlari sekencang-kencangnya menuju kamar mandi.
Ketika Sekar siap berangkat kuliah. Dia kuliah jurusan pendidikan matematika di kota Surabaya. Kota yang berhawa panas dengan berjuta lalu lalang orang mencari pekerjaan. Kota dengan julukan Kota Pahlawan terkenal arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia lalu.
Saat tiba di terminal Mojokerto, Sekar beranjak menuju bus arah ke Surabaya. Bus hijau yang kecepatannya lumayan, tidak seperti bus-bus besar lain. Seperti biasanya, Sekar menikmati setiap detik perjalanan menuju kesana.
“Selalu macet, ah!” Sekar cemberut dengan kemacetan Sepanjang.
Ketika turun, dia harus berjalan menyusuri Jembatan gantung yang berada di atas jalan raya. Dia lagi-lagi menyeringai, di sepanjang jembatan gantung banyak pengemis.
“Gini nih, kalau negara korupsi. Banyak pengemis!” dalam batinnya.
Sekar melihat diantara pengemis, ada anak kecil kira-kira berumus 7 tahun.
“Anak kecil itu kenapa ngemis daripada sekolah. Duh apa yang dilakukan pemerintah. Negara korupsi ya begini,” katanya. Dia menyebut kata negara korupsi berkali-kali. Dia memang pembenci negara Indonesia. Bukan orang-orang disekitar tetapi, sang pemimpin yang tidak profesional dengan kewajibannya.
“Ah, sudahlah. Tidak ada habisnya kalau memikirkan itu.” Dia memutuskan fokus bimbingan ke dosen. Dia sudah semester akhir di jurusan matematika. Rasa lega ketika keluar dari ruangan dosen dengan wajah sedih bercampur bingung. Mahasiswa akhir tak bisa dipungkiri mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari dosen ditambah revisian tiada berhenti.
Dia memutuskan pulang untuk menenangkan pikiran. Dia mulai mengantuk dalam perjalanan pulang ke rumah. Matanya kedip-kedip, akhirnya menutup.
“Dimana ini?” terliahat wajah kebingungan Sekar. Dia berada dalam ruangan besar ala-ala zaman dahulu. Dia duduk diantara orang-orang berkulit putih, tinggi.
“Ah, ini kan orang belanda.” Dia mencoba bertanya kepada salah satu orang belanda.
Tiba-tiba, orang belanda terlihat gagah ditengah podium berbicara,
“Merupakan satu keharusan bagi generasi ini bahwa kita semua harus menguasai betul bahasa Belanda.”
“Apa? Kok membahas bahasa belanda. Dimana sih ini?” Dia setengah ketakutan.
Sekar terlalu malu bertanya pada orang yang disampingnya. Tiba-tiba suara anak kira-kira umur 16 tahunan membuat hening seluruh ruangan.
“Tidak. Saya tidak setuju.” Suara keras dengan sedikit gugup anak tersebut melanjutkan kata-katanya.
“Tanah tumpah darah yang kita banggakan ini dulu pernah disebut Nusantara. Artinya, ribuan pulau-pulau, dan banyak di antara pulau-pulau ini lebih besar dari seluruh Negeri Belanda. Jumlah penduduk Negeri Belanda hanya sepersekian dari penduduk kita. Bahasa Belanda hanya dipakai oleh enam juta orang.”
Sekar kagum dengan anak tersebut, dia berani menentang orang belanda yang gagah. Dia mulai berpikir, “kenapa ada orang belanda? Apa ini zaman penjajahan belanda di Indonesia? Kenapa aku disini, OMG, aku harus gimana?” Sekar mulai kebingungan dan ketakutan.
Kebingungan teralihkan oleh anak tersebut yang berkata,
“Belanda berkulit putih. Kita sawo matang. Rambut mereka pirang dan keriting. Kita lurus dan hitam. Mereka tinggal ribuan kilometer dari sini. Jadi mengapa kita harus berbicara Bahasa Belanda?” Kata anak tersebut dengan tegas.
“Wow, anak ini keren banget. Seru nih. Tapi, siapakah anak ini?” Kata Sekar. Orang gagah di podium terlihat masam kepada anak itu.
Ketika aku ingin bertanya dimana ini. Tiba-tiba kepala Sekar merasa pusing. Dia berganti tempat di ruangan tertutup bersama 6 orang disitu. Mereka berdebat hebat. Sekar meresa jengkel dengan perdebatan yang terjadi. Dia berteriak, tetapi tidak ada yang merespon seperti dia tidak bisa melihat Sekar.
Suara keras terdengar, “SEKARANG WAKTUNYA INDONESIA MERDEKA!”
Sekar merasa wajah itu terlihat familier. “Oh ini kan Bung Karno, OMG ini seperti menonton sebuah film. Kenapa aku bisa melihat peristiwa ini. Wow ini sangat seru bisa melihat secara langsung Bung Karno.” Sekar mulai berbunga-bunga.
“Rakyat belum lagi siap,” keluh orang lainnya.
“Rakyat SUDAH siap,” Jawab Bung Karno tegas. “Dan itu menadi semboyan kita: ‘Indonesia merdeka SEKARANG,” Dia ulangi lagi, “Indonesia merdeka SEKARANG!”
Wajah Sekar melihat dengan kagum ketegasan dan keberanian Bung Karno. “Aku bisa cerita ke teman lain kegagahan Bung Karno nih, tapi kenapa aku disini!” batin Sekar bingung untuk kesekian kali.
“Ini tidak mungkin dilakukan, Bung,” potong lainnya.
“Cita-cita Bung Karno terlalu keras. Kita akan dihancurkan sebelum mulai. Mayoritas rakyat yang mendengarkan Bung Karno, akan mengikuti secara membabi buta, tatapi Indonesia merdeka SEKARANG adalah terlalu radikal. Pertama kita harus pelan-pelan mengusahakan persatuan nasional.”
“Kita belum bersatu, betul. Kita memiliki terlalu banyak ideologi, setuju. Kita harus mengusahakan persatuan nasional, ya. Tetapi jangan lagi bergerak pelan-pelan. Bukankah 350 tahun sudah cukup pelahan!” Seru bung Karno.
“Pertama kita harus mendididk rakyat kita yang jutaan jumlahnya. Mereka harus dipersiapkan untuk memerintah mereka sendiri. Kedua, kita harus memperbaiki kesehatan mereka agar tahan berdiri tegak. Bukankah lebih baik kalau segalanya sudah lengkap dan beres terlebih dahulu?” Jawab mereka.
“Satu-satunya waktu agar segalanya sudah lengkap dan beres ialah bila kita sudah mati,” teriak Bung Karno. “Untuk mendidik mereka secara pelan-pelan akan memakan waktu beberapa generasi. Kita tidak perlu menulis tesis atau membasmi malaria sebelum kita memperoleh kemerdekaan. Indonesia merdeka SEKARANG! Setelah itu baru kita mendidik dan memperbaiki kesehatan rakyat dan negeri kita. Hayo, bangkitlah sekarang.”
Tiba-tiba aku pusing dan membuka mata. Terlihat kedua orangtuaku mengis bercampur bahagia. “Akhirnya kau bangun anakku.”
“Aku dimana?” tanya Sekar.
“Kau habis kecelakaan sepulang dari Surabaya” jawab ibuku.
“Ternyata itu semua mimpi”.
Dia mulai jatuh cinta kepada sang kemerdekaan yaitu Bung Karno. Perjuangan yang sangat hebat. Akhirnya dia mencintai Indonesia karena mereka telah memerdekakan Indonesia. Tanpa mereka Kita bukan apa-apa.

#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad1
#Day29

0 comments:

Post a Comment

JADILAH DIRIMU SENDIRI. Powered by Blogger.