Setitik Harapan



Cintai dirimu sendiri, maka kau akan tahu betapa berharganya dirimu (Anymous)

Aku besar di Mojokerto. Kota kecil punya angin yang sepoi-sepoi. Namaku Langit. Orangtuaku memberi nama tersebut agar aku selalu menyejukkan, menenangkan, dan menyenangkan seperti langit. Sayangnya aku tidak seperti itu. Teman-teman menyebutku 'sie polos', ketika itu aku sangat pendiam dan tidak tak punya teman. Umurku baru 17 tahun masih duduk di SMA ternama di daerah mojokerto. 

Hal yang palingku benci saat jam istirahat berbunyi. Anak-anak lain pergi ke kantin, bercenda gurau bahkan bermain poker. Tapi, aku di kelas sendirian, diam dan pura-pura membaca buku. Aliran deras meluncur melalui tubuhku ketika teringat masa lalu. Masa dimana membentukku seperti ini. 

Kedua orangtuaku selalu sibuk dengan pekerjaan sehingga aku dikirim ke rumah adiknya budhe yang mempunyai anak seumur. Nama anak tersebut Cantika. Ketika itu kami sama-sama berumur 6 tahun. Cantika nama yang bagus tetapi tidak dengan kepribadian. Dia pernah membuatku sangat ketakutan. Didalam kamar yang berantakkan, berdebu dan tidak berlantai. 

Dia mendekatiku, menarik dan memelukku. Hembusan nafasnya bisa aku rasakan, sangat dekat wajah kita saling bertatapan. Diam, hanya itu yang bisa aku lakukan. Karena jika aku berteriak, dia akan mencubit dibagian pupuku seperti biasanya. Dia menciumku dan membuka bajuku. Aku menangis melihat apa yang dia lakukan. 

Kenangan tersebut sangat mencekikku. Aku tidak pernah menceritakan kenangan tersebut kepada orang lain bahkan kepada kedua orangtuaku. Saat orang lain mencoba mendekat siapapun itu, aku hanya terdiam tidak berkutik karena kenangan itu selalu membayangiku.

Nama langit juga sangat membebaniku. Aku tidak bisa memenuhi nama tersebut. Terkadang orangtua kecewa terhadap keberadaan diriku. Suatu ketika orangtuaku berkata, "Kau tidak bisa apa-apa." Hatiku tercabik-cabik ketika aku menolak perintah orangtua. Bukannya menolak tapi, aku tidak bisa melakukan apa yang diminta. Ibuku meminta tolong menannyakan uang galon kepada tetangga. Terlalu malu untuk melakukan itu. 

Tidak ada gunanya aku memikirkan diriku yang seperti ini. Meraba rasa sakit di dada bertambah sakit. Khawatir terhadap masa depan yang masih panjang. Apa akan terkikis oleh waktu? Terkadang hidup ini tidak adil. Terkadang, ingin bebas dari belenggu ini. Namun, apa daya kegelapan sudah merajalela. Keputusasaan terbelenggu oleh kegelapan.

Umurku beranjak 21 tahun, ada seorang teman yang baik sekali mencoba menolongku. Akhirnya aku dibawa kepada seorang psikolog. Disana aku mendapat hipnotis. 

#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad1
#Day25

0 comments:

Post a Comment

JADILAH DIRIMU SENDIRI. Powered by Blogger.