Pahami Kami



Saya adalah seorang "Introvert".
Saya lebih suka berkomunikasi via SMS daripada berbicara via telepon.
Saya lebih suka chat daripada "free call".
Saya lebih suka menulis untuk benar-benar bisa menyampaikan sesuatu daripada harus berbicara tapi, tidak terstruktur, terbata-bata dan bisa jadi salah makna.
Mungkin ada beberapa orang yang lebih suka tatap muka dan berbicara karena ekspresi dan kejujuran seseorang dapat terlihat, tapi saya memang lebih nyaman berbicara dengan menulis.

"Emang kalem ya?", "Jangan malu-malu ah", "Lucu kamu", "Kayak anak kecil", "Kok diam saja".
Percayalah, sudah sering saya mendengar ucapan itu.
Awalnya saya tidak menyukai fakta bahwa saya terlahir sebagai seorang introvert.

"Kenapa sih aku susah banget akrab sama orang?"
"Kenapa sih aku kebanyakan diem?"
"Kenapa sih aku gak bisa memulai percakapan dan mempertahankannya menjadi suatu pembicaraaan yang panjang?".
Mentally, semua fakta itu menyiksa diri saya. 
Berkumpul denga orang banyak menjadi suatu hal yang ingin saya hindari.
Kecuali jika memang itu suatu kewajiban, seperti mengerjakan tugas kelompok, setidaknya ada yang bisa saya lakukan ketika semua orang sedang sibuk mengobrol satu sama lain.

Taukah kalian? Felling lonely in the crowd is one of the most painful thing.
Dan tidak hanya satu dua kali saya merasakan hal itu. 
Tentu, saya tidak merasa seperti itu kepada semua orang.
Mencari teman baru memang suatu hal yang dulu saya takutkan ketika akan memasuki lingkungan baru.
Tetapi ketika sudah menemukan orang yang "klik", saya akan terbuka, tidak merasa terbebani ketika berbicara banyak-banyak.
Keluarga dan sahabat, adalah kotak nyaman saya. Kepada mereka lah saya lebih banyak menyampaikan isi hati.

Terkadang saya mencobva untuk keluar dari kotak nyaman itu. Percayalah, saya sudah mencoba untuk basa-basi dengan orang lain ketika sedang menghadiri perkumpulan yang ramai. Dengan beberapa menit sebelumnya terdiam untuk mencari bahan pembicaraan. Tapi, seringkali saya gagal untuk mempertahankan obrolan itu. Kemudian saya kembali terdiam, "kesepian" dan beralih untuk bermain HP.

Sempat berpikir, "Enak gak ya kalau aku ngomong kayak gini?"
"Nanti kalau aku ngomong kayak gitu, dia bakal gimana ya?"
"Jangan deh, topik lain aja.. apa ya?"

Pikiran-pikiran seperti itulah yang seringkali membuat saya tertahan untuk mengatakan apa yang ingin saya sampaikan. Kalau boleh dibilang, saya tidak ingin menyakiti orang dengan perkataan saya karena seringkali saya melontarkan kata-kata pedas yang menyayat hati.

Kini saya mencoba untuk bersyukur bahwa saya adalah seorang introvert. Tidak mudah memang tapi, setidaknya, banyak orang sukses yang memiliki kepribadian introvert. Seringkali, saya masih ngedumel pada diri sendiri karena tidak bisa menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan dengan baik ketika bertatap muka dengan orang lain. Tapi kamu tidak bisa memaksakan seorang introvert menjadi seorang ekstrovert. Bisa-bisa saya jadi stress sendiri.

Saya sedang berusaha untuk hidup lebih baik dengan kepribadian introvert ini. Saya ingin mengutarakan isi hati. Percayalah teman, kami tidak datang perkumpulan bukan karena kami sombong. Bagi introvert berada dalam keramaian dapat menyedot energi kami, membuat kami mudah untuk merasa tidak nyaman. Kami tidak menyapamu duluan bukan karena kami tidak menganggap kalian ada. Kami introvert memang tidak terlalu suka dengan basa-basi. Kami diam bukan karena kami tidak peduli. Kami hanya ingin menghindari konflik berkepanjangan.


#30DWC
#30DWCJilid14
#Squad1
#Day8

0 comments:

Post a Comment

JADILAH DIRIMU SENDIRI. Powered by Blogger.