Beri Penjelasan

"Vivi pasti bisa!" seru batin vivi. Dia mengulangi kata-kata tersebut di depan cermin. Wajahnya terlihat malu-malu sesekali berani sedikit bergaya centil. "Im Ready!" bersiap vivi untuk menerjang badai. 

Dia berjalan dengan perlahan sambil mencoba untuk memandang ke depan. Ketika banyak orang lalu lalang, dia mulai menunduk ke bawah. "Aku takut" detak jantung vivi bertambah cepat. Dia berusaha untuk memandang ke depan lagi dan berbisik di hatinya "Vivi menjadi vivi yang baru, pasti bisa". Bertemulah dengan orang yang dikenal Erwin namanya. Vivi tersenyum dan menyapa ke Erwin. Erwin juga menyapa tetapi bukan kepada Vivi. Saat itu juga Vivi mulai gemetaran masuk ke sebuah universitas besar yang sudah dia jalani aktivitas setahun disitu. Tapi vivi tidak mempunyai teman dekat sama sekali. 

Selama jam mata kuliah dia tidak berbicara sepata kata pun. Dia merasa di dunia ini hanya ada dia saja. "Aku seperti mayat hidup" rasa sedih menyelimutinya. 


Dia teringat orang yang sangat dicintainya selama lebih dari 4 tahun. Dia hanya memandang dari kejahuan dan melepas rindu dengan chat handphone tapi tidak menggunakan nama dirinya melainkan nama lain. Dia tidak berani menggunakan namanya karena dia takut orang yang dicintainya menjauh darinya. Orang yang sangat di puja dan disanjung berkata bahwa dirinya "pelacur". Dia tidak menyangka orang yang selama dia sayang berkata seperti itu kepadanya. 

Dikos-kosan kecil, dia menangis sejadi-jadinya. Dia merasa tidak berguna sebagai manusia, dan merasa sendiri di dunia ini. Terasa sangat sesak teramat sesak dan sesak. Hidungnya membenarkan itu ketika ada yang keluar dari dalam hidung yaitu iler. hehehe

Dia berjuang melawan dirinya sendiri. Orang pertama berbisik "Kamu harusnya jadi mereka yang mudah bergaul, menonjol di dalam kelas, kamu bodoh, tolol, gak berguna kalau gak bisa seperti mereka". orang kedua berkata "jadilah dirimu sendiri, kamu harus bertahan, gak boleh sedih". Dia merasa sangat tertekan, kedua tangannya berada di kepala serasa menahan beban yang sangat berat.

Dia tidak bisa berpikir jernih. Dia melihat di depannya ada sebuah gelas minum pecah beling. Dia mencoba meraih dan memecahkan gelas tersebut. Dia berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Sebelum melakukannya, dia teringat kedua orang tua nya yang selalu menerima dia apa adanya. Yang tidak pernah menginginkan apa-apa, hanya ingin melihat vivi bahagia. Tidak dengan orang lain yang melihat dari wajah, sikap, tingkah laku, sesama hoby, atau keasyikkan diajak ngobrol. 

#30DWC
#30DWCJilid14
#Day2
#Squad1

0 comments:

Post a Comment

JADILAH DIRIMU SENDIRI. Powered by Blogger.